15 Mei 2009

Hiruk Pikuk Partai Politik Menjelang Pilpres 2009

Saya sangat terkesan kepada seorang penanya di acara TV, kalau tidak salah di TV One yang sangat gencar menyiarkan pemilu, ketika keputusan SBY memilih Boediono sebagai cawapres pendamping SBY, banyak partai-partai yang akan berkoalisi dengan PD kecewa berat bahkan mengancam untuk keluar dari koalisi, dipilihnya Boediono sebagai pendamping SBY. Lalu bapak itu bertnya seperti ini “Sebenarnya partai-partai yang akan berkoalisi dengan PD itu ingin memperjuangkan kepentingan rakyat atau hanya memperjuangkan kepentingan partainya / golongannya sendiri? Wah bapak ini cerdas sekali. Ternyata dari peserta diskusi yang terdiri dari empat partai itu tidak mampu menjawab, dan beralasan kalau mereka tidak diajak diskusi dalam menentukan Boediono. Sebenarnya apa see yang terjadi mari kita simak analisis dari pakar politik bapak Abdul Gaffar Karim.

Entah dengan cara apa kita nilai langkah-langkah SBY dan Partai Demokrat belakangan ini. Akankah kita nilai mereka sebagai pihak yang lamban dalam memutuskan mitra koalisi dan pasangan capres-cawapres atau kah kita akan beri mereka predikat sebagai pihak yang cerdas dalam membaca medan, serta mengasapi lubang ular agar keluarlah semua kepentingan? Saya menilai bahwa kemungkinan kedua yang lebih bisa menjelaskan keadaan. SBY dan PD tampak jelas mendulang keuntungan dari permainan tarik ulur dan menggali sebesar-besarnya pemahaman akan medan dari reaksi setiap partai politik di tengah kecemasan mereka akan waktu yang berlari cepat menuju pilpres juli nanti . Manuver Golkar (lebih cepat lebih baik) dengan keberanian mengambil risiko dalam koalisi dengan wiranto, konflik internal dalam PAN usai pendekatan SBY pada Hatta Rajasa. Serta serangkaian ekspresi ancaman dan ketidak puasan PKS terhadap langkah-langkah politik SBY dan PD, telah jelas-jelas memberi gambaran yang sangat utuh bagi mereka akan peluang dan risiko di bulan juli nanti.

Dalam beberapa hari belakangan, kiranya telah jelas bagi SBY dan PD, bahwa partai-partai politik papan tengah ini telah menyimpan ambisi besar dalam koalisi dengan PD. Koalisi dengan PD ini lah salah satu jaminan besar bahwa partai-partai ini bisa kembali dalam pemerintahan.

Namun mestinya jelas juga bagi SBY dan PD bahwa parpol ini mungkin tidak akan bisa menjadi mitra yang mudah. Ancaman setengah hati dari PKS untuk tidak turut dalam koalisi jika PD mengandeng Golkar menunjukkan hal itu. Belakangan, ketidakpuasan parpol-parpol ini terhadap kecawapresan Boediono juga mengindikasikan hal yang sama.

Bagi saya jelas sekali partai-partai ini telah menunjukkan gelagat untuk numpang menang, namun telah menyicil rongrongan kepada SBY dan PD. Jika SBY tetap akan mengandeng mereka dalam koalisi, maka lima tahun kedepan hal seperti inilah yang kira-kira akan dihadapi. Bila ia membagikan kursi kabinet pada partai-partai ini, sementara Boediono duduk dikursi RI2, maka pembangkangan (halus maupun tegas) terhadap arah kebijakan ekonomi yang digariskan pimpinan pemerintahan kemungkinan akan datang dari sebagian menteri menterinya sendiri.

Tentu saja ini semua kalau SBY Boediono koalisinya berhasil memenangkan pilpres juli nanti. Kalau JK-Wiranto yang menang , urusan tentu berbeda. Parlemen mungkin akan menjadi kerumunan gaduh partai-partai politik yang tak akan lelah mengkritisi kebijakan pemerintahan.

Sumber: Abdul Gaffar Karim,kr.14Mei2009.hal01

25 April 2009

Obesitas dapat meningkatan pemanasan global

Meningkatnya angka kasus kegemukan (obesitas) di dunia ini dikatakan menjadi salah satu penyebab munculnya pemanasan global. Lho, apa hubungannya?

Para ilmuwan memperingatkan bahwa meningkatnya jumlah pelahap juga berarti menunjukkan peningkatan produksi makanan, penyebab terbesar emisi gas CO2 yang membuat planet bumi ini memanas.

Obesitas juga dikatakan berperan serta dalam merusak lingkungan. Dr Phil Edwards dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan, "Setiap lemak yang terdapat dalam diri seseorang yang kegemukan bertanggung jawab atas keluarnya se-ton karbondioksida setiap tahun." Itu artinya, miliaran ton CO2 setiap tahunnya tercipta.

Para ilmuwan menyatakan, pemanasan global menyebabkan melelehnya es di kutub utara dan menaikkan permukaan air laut dan menghancurkan hutan rimba.

Efek lemak atas lingkungan ini makin kelihatan apalagi kebanyakan mereka yang kegemukan malas beraktivitas. Mereka lebih suka mengendarai mobil, penyebab terbesar emisi karbon.

Ilmuwan di London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan, negara maju seperti Amerika dan Inggris mengalami masalah ini.

Kata Phil "Produksi makanan sekurangnya mencapai seperlima dari jumlah gas-gas rumah kaca." Karena itu, lanjut Phil, butuh upaya agar tren obesitas menjadi turun. Ini merupakan faktor kunci dalam memerangi emisi karbon dan memperlambat perubahan iklim.

wadoh kita kudu ngurangin bobot ne....

*)dari berbagai sumber